SUMBAWA BESAR — Sabtu malam (17/1), di bawah gemerlap lampu Lapangan Pahlawan, semarak tawa pecah saat Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot. M.P., berdiri di atas panggung bukan untuk membacakan pidato birokrasi yang kaku, melainkan menjajal stand-up comedy. Namun di balik keriuhan perayaan HUT ke-67 Kabupaten Sumbawa itu, terselip sebuah ambisi besar yang jauh dari sekadar lelucon: peluncuran Bale Mula.
Bale Mula—atau Rumah Entrepreneur Muda—bukanlah sekadar lembaga atau seremoni papan nama. Ia adalah pernyataan sikap atas kegelisahan menahun mengenai ketergantungan ekonomi daerah pada kekuatan ekonomi kota besar. Selama ini, mata rantai ekonomi Sumbawa sering kali hanya menjadi perlintasan; bahan baku diambil dari hulu, namun nilai tambahnya dinikmati di hilir yang letaknya jauh di luar batas kabupaten, seperti Mataram atau kota besar lainnya bahkan di Jawa.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa tampaknya mulai menyadari bahwa memperkuat UMKM tidak cukup dengan suntikan modal atau pelatihan singkat yang “instan”. Lebih jauh dari itu adalah membangun ekosistem. Kepala Bagian Perekonomian dan SDA, Ivan Indrajaya, menekankan bahwa Bale Mula dirancang sebagai inkubator yang mengawal pelaku usaha dari hulu—penyiapan manajerial dan legalitas—hingga ke hilir—penghubung pemodal dan perluasan pasar.
“Bale Mula tidak menjanjikan hasil instan, tetapi membangun proses yang benar agar ekonomi daerah tumbuh secara berkelanjutan,” tegas Ivan.
Kalimat ini mengandung harapan evaluatif terhadap kebijakan-kebijakan masa lalu yang mungkin terlalu berorientasi pada hasil fisik tanpa memedulikan daya tahan ekosistem lokal. Sebab tantangan sesungguhnya bukan pada bagaimana produk dibuat, melainkan pada ke mana uang itu mengalir.
Salah satu poin krusial dalam gerakan ini adalah upaya mengubah pola konsumsi atau market behavior. Selama ini, ada kecenderungan psikologis dan ekonomi di mana perputaran uang masyarakat Sumbawa lebih cepat “terbang” ke Mataram. Baik itu melalui belanja ritel besar maupun ketergantungan pada jasa dari luar daerah.
Melalui simbolisme Coffee Night—penyajian dan minum kopi bersama 1.500 cup kopi lokal—Sumbawa sedang mencoba membangun narasi kedaulatan. Pesannya jelas: mengapa harus mencari rasa dan gengsi ke kota lain jika kualitas itu ada di tanah sendiri?. Membuat pasar lokal untuk melirik produk lokal bukan hanya soal nasionalisme daerah, tapi juga soal memastikan setiap rupiah yang berputar tetap tinggal dan menghidupi masyarakat Sumbawa.
Bupati Syarafuddin Jarot dalam sambutannya juga menekankan bahwa pada usia ke-67, Kabupaten Sumbawa harus berani menegaskan arah pembangunan yang relevan dengan tantangan zaman. Menurutnya, dinamika dunia kerja dan ekonomi yang bergerak cepat menuntut pemerintah daerah tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun manusia, jejaring, dan ekosistem usaha.
“Bale Mula adalah rumah bersama. Tempat anak-anak muda belajar, mencoba, berkolaborasi, bahkan gagal dan bangkit kembali,” ungkap Bupati.
Namun, rumah ini akan tetap menjadi bangunan kosong jika tidak diiringi dengan kebijakan proteksi yang nyata bagi UMKM dari gempuran pasar modern dan ketergantungan pada rantai pasok luar daerah.
Membangun ekonomi dari hulu ke hilir berarti berani memotong kompas ketergantungan. Menjadikan Sumbawa sebagai pusat gravitasi ekonomi bagi warganya sendiri, bukan sekadar penonton di pinggiran gemerlap kemajuan kota seberang.
Bale Mula adalah langkah awal. Namun, ujian sesungguhnya adalah konsistensi: apakah pemerintah mampu menjaga agar semangat ini tidak layu setelah lampu panggung car free night dipadamkan? Karena ekonomi yang berakar tak butuh tepuk tangan, ia butuh daya tahan dan keberlanjutan.


